hide

Read Next

Wawancara Wakil Ketua II Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) : Bapak P. Margono

On Sui Generis

Peringatan hari kemerdekaan Indonesia selama beberapa tahun terakhir telah saya lewati dengan satu aktifitas yang sama, yakni tidur. Saya memanfaatkan waktu libur nasional ini untuk beristirahat setelah menggunakan hari-hari sebelumnya untuk beraktifitas. Namun pada tahun ini saya melewatinya dengan rutinitas yang tidak biasa.

Pada hari Minggu, 17 Agustus 2014, sejak subuh saya sudah bersiap untuk pergi meninggalkan rumah. Tujuan saya adalah gedung Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) yang terletak di jalan Radin Inten, Duren Sawit. Hanya berjarak 15 menit dari kediaman saya. Saya pun bahkan baru mengetahui gedung ini eksis di wilayah Jakarta Timur dua hari sebelumnya, dan sangat ironis mengetahui bahwa saya telah hidup di daerah ini selama 22 tahun. Saya meninggalkan rumah tepat pada pukul 06.00 WIB dan sampai di lokasi pukul 06.15 WIB.

Saya disambut oleh gedung yang telah didekorasi menggunakan berbagai properti yang memiliki unsur warna merah dan putih, lengkap dengan atribut upacara bendera yang telah tersusun rapi. Papan nama yang bertuliskan nama-nama pleton, mikrofon yang telah berdiri tegap di tengah mimbar, pengeras suara, hingga lokasi khusus untuk tim paduan suara telah tersusun dengan rapih. Saya pun dengan mantap melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung dengan harapan bertemu dengan beberapa pengurus LVRI.

Sesampainya di dalam, saya melihat telah terdapat dua sosok veteran yang tampak telah siap menjalani upacara peringatan hari kemerdekaan. Seorang pria dan seorang wanita. Entah mengapa namun saat itu insting saya membawa saya menghampiri sang veteran wanita terlebih dahulu. Saya menyapa wanita paruh baya ini dan memperkenalkan diri saya, serta menjelaskan intensi saya datang ke LVRI. Setelah saya berusaha membuka diri dan menjelaskan maksud saya ke beliau, jawaban yang beliau berikan sangat singkat, padat, dan jelas. Sang ibunda berkata, “Mas silahkan duduk dan tunggu atasan saya dulu. Saya belum bisa mengambil keputusan karena saya mengikuti komando atasan”. Cara penyampaiannya sangat halus, namun masih melekat nuansa yang tegas, menghormati struktur, dan rantai komando. Kebiasaan lama mungkin memang sulit untuk dihilangkan.

Akhirnya saya menunggu di ruang kantor tersebut. Satu per satu rekan dari Program Kepemimpinan (PK) 16 pun berdatangan dan menunggu pula di ruangan yang sama. Lambat laun gedung pun dipenuhi oleh veteran yang datang dari berbagai pelosok ibukota untuk menghadiri upacara di markas besar LVRI tersebut. Terdapat sekitar ratusan veteran dari berbagai angkatan yang hadir. Saya pun sempat berbincang dengan beberapa dari mereka. Ada yang merupakan veteran kemerdekaan yang berperang melawan penjajahan Belanda, Jepang, hingga momen pelantikan presiden Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat pada tahun 1949. Ada yang terlibat langsung dalam proses pembebasan Irian Barat, atau yang kita kenal sebagai Tri Komando Rakyat (Trikora). Ada yang merupakan veteran perang Dwikora, yakni saat Indonesia bersitegang dengan Malaysia pada pertengahan 1960-an. Ada pula veteran yang merupakan mantan pejuang Indonesia ketika berhadapan dengan Timor Timur pada tahun 1974. Setiap dari mereka yang sempat saya sapa, dengan antusias menceritakan peranan mereka dalam tiap kejadian tersebut.

Three cheers for making friends!

On Sui Generis

Annissa Aulia Handika

Sang Oseanografer dari Kuala Kencana

Oleh Aldo Marchiano Kaligis

Saya menghabiskan lebih dari 16 menit untuk mengenal sosok perempuan yang satu ini. Tidak juga saya hanya mengenalnya melalui telepon selular atau media sosial. Saya belum pernah bertemu, melakukan kontak primer, apa lagi mengenal perempuan ini sebelumnya. Namun, dengan bermodal kenekatan dan mengesampingkan rasa malu, saya menghampiri rumahnya yang terletak dibilangan Jatiwarna, Bekasi.

Saat pertama kali datang, Oli – panggilan akrabnya – hanya berdua di rumah bersama adiknya. Hal tersebut dikarenakan ayah, ibu, serta neneknya sedang pergi ke bioskop untuk menonton Hijrah Cinta. Sebuah film biopic yang menggambarkan kisah kehidupan Ustadz Jeffry Al Bukhari beserta keluarganya. Lalu kami berbincang santai malam itu.

Rendering New Theme...