Alex Mering

A Rational Blog Alex Mering

hide

Read Next

Mundial

On Sui Generis

Pasca pergantian tahun 2013 menuju 2014, mayoritas media di Indonesia terfokus untuk meliput satu isu: Pemilihan Umum (Pemilu). Baik Pemilu legislatif maupun presiden menjadi materi utama dalam penyajian informasi masing-masing kantor berita. Mulai dari memaparkan profil tiap partai politik, prosentase perkiraan suara kandidat presiden, analisis iklim politik 2014, hingga kampanye tersirat disiarkan on maupun off air. ‘Tahun Politik’, begitulah label yang kira-kira dianut oleh seluruh media di Indonesia untuk memberi nama tahun 2014 ini. Namun, 2014 tidak hanya merupakan tahun politik saja, melainkan juga tahunnya sepakbola. Yap, Piala Dunia 2014 yang akan diselenggarakan di Brazil akan dimulai pada tanggal 12 Juni 2014 dan berakhir pada 13 Juli 2014.

Turnamen yang saya juluki sebagai ‘The Universal Fiesta’ ini memiliki arti tersendiri bagi penikmat sepakbola internasional. Inilah ajang dimana rivalitas antar negara diputuskan melalui format pertandingan sepakbola dan dapat dinikmati secara internasional. Ratusan juta pasang mata akan melihat aksi para pemain mengolah bola di atas lapangan hijau. Lebih istimewanya lagi adalah karena Piala Dunia kali ini diselenggarakan di Brazil, negara yang telah lima kali mencicipi gelar juara dunia, serta menandai kembalinya trofi paling bergengsi di dunia sepakbola ini ke tanah Amerika Latin. Ke tanah para mestizo, mulato, dan ikon-ikon besar seperti Fidel Castro dan Che Guevara terlahir.

(http://www.vidalatinasd.com/news/2014/Jan/26/brazilian-police-shoot-man-during-protest-against/)

Upaya lobi yang dilakukan Brazil untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia tidak terlepas dari prinsip-prinsip liberalisasi ekonomi yang dilakukan. Maksud daripada prinsip ini adalah suatu sistem yang memberikan kebebasan yang besar bagi pelaku-pelaku ekonomi untuk melakukan kegiatan yang terbaik bagi kepentingan individual atau sumber daya ekonomi atau faktor produksi. Sistem ini memberikan kebebasan pada individu (atau bisa kita sebut sebagai pihak swasta) untuk menentukan kegiatan ekonomi, baik konsumsi maupun produksi. Cara kerjanya diserahkan pada mekanisme pasar, jadi ada permintaan dan penawaran yang kemudian bisa mencapai keseimbangan harga dan kebutuhan, yang “dibantu” oleh tangan yang tidak terlihat (invisible hand).Pendukungnya percaya bahwa kebebasan politik dan kebebasan sosial tidak dapat dipisahkan dengan kebebasan ekonomi dan menggunakan argumen filosofis mempromosikan kebebasan untuk membenarkan liberalisme ekonomi dan pasar bebas. Meskipun liberalisme ekonomi dapat mendukung peraturan pemerintah untuk tingkat tertentu, ia cenderung menentang intervensi pemerintah di pasar bebas yang dianggap menghambat perdagangan bebas dan kompetisi. Intervensi yang berlebihan dari pemerintah justru menghambat perekonomian dan keuntungan maksimal bagi pelakunya. Tetapi, walaupun menginginkan intervensi yang minimal dari negara. Negara tetap dibutuhkan dalam penyediaan jalan, kanal, sekolah, rumah sakit, jembatan, dan hal lainnya yang tidak bisa secara efisien disediakan oleh swasta. Ketika swasta tidak bisa menyediakan, maka negara harus mengambil alih. Prinsip liberalisasi ekonomi inilah yang membuat pertumbuhan ekonomi Brazil mengalami penginkatan yang progresif.

Lo apa kabar? Gue kangen.

On Sui Generis

Hari ini, Sabtu 10 Mei 2014, saya kehadiran seorang tamu. Seorang tamu yang telah lama saya tunggu karena rasa rindu yang begitu membuncah. Seorang teman sejak SMA yang masih rajin berkomunikasi dengan saya hingga kini. Tamu yang saya maksud ini bernama Ilham Rahmanda Dony.

Peranakannya masih sama seperti dahulu. Bibirnya tebal, menggunakan kacamata, rambut botak tipis seadanya, dan jenggot yang menjalar hingga jakun bak rhoma irama. Perilakunya? Sama juga seperti Ilham yang saya kenal. Jenaka, gila, dan tidak pernah berhenti berbicara. Hanya saja teman saya ini sekarang telah bekerja di salah satu perusahaan consulting ternama di Jakarta. Ilham yang sekarang juga lebih filosofis dan sedikit serius.

Kami membicarakan banyak hal. Mulai dari sepakbola hingga definisi dari kata ‘teman’. Ilham ini fans berat tim nasional (timnas) Inggris, sama seperti saya. Namun, saya berusaha realistis akan pencapaian timnas Inggris pada Piala Dunia Brazil 2014 mendatang. Menurut saya, dengan skuat yang ada saat ini, akan sangat sulit untuk Inggris bersaing dengan tim besar seperti Italia dan Uruguay. Pernyataan tersebut langsung dibantah oleh Ilham. Menurutnya, dengan susunan pemain yang ada saat ini, timnas Inggris tetap berpeluang untuk juara di Brazil nanti. Menurutnya, formasi ideal yang berisikan Joe Hart di kiper; Glen Johnson, Tim Cahill, John Terry, dan Leighton Baines sebagai bek; Steven Gerrard, Jordan Henderson, Alex Chamberlain, dan Raheem Sterling di tengah; serta duet Wayne Rooney dan Sturridge di depan, akan dapat membawa timnas Inggris mengulang masa kejayaannya. Diskusi berjalan dengan alot, namun menyenangkan. Ternyata, tidak hanya soal sepakbola kami berbeda pandangan.

(Ilham ketika masih dalam peer group Doraemon)

Rendering New Theme...